puisi adalah
bungkah-bungkah yang kugubah
menerjah awan gemawan dilangit membiru itu
pun jua adalah
sekuntum pelangi yang kau lihat
melengkong senja
dari gunung ke gunung
puisi itu jua adalah
belon-belon yang dipegang anak kecil
pelbagai warna dijalanan pesta besar
dan puisi bisa jadi
dari langit senja nan ngeri
dari ombak memukul batuan zaman
dari beburung terbang pulang berkawan-kawan
fauzirashid
7.4.09
kiriman buat cryta
03 Jun 2009
Langgan:
Catat Ulasan (Atom)
Belum bertajuk
Di sangkak tradisi Dieramnya generasi buat menyambung legasi Menetaslah wajah-wajah baru dari kehangatan kasih
-
Di sangkak tradisi Dieramnya generasi buat menyambung legasi Menetaslah wajah-wajah baru dari kehangatan kasih
-
ada yang menghirup segelas benci ada yang menghembus segumpal caci patah-patah kata bersiponggang dengan jerit pekik penggusti di tv kadang-...
-
(ketika aku menziarah kematian isteri sahabatku Mior kulihat ramai sanak saudaranya sampai dan berpelukan dengan wajah murung, kusaksikan ad...
puisi itu
BalasPadamperjalanan hidupku
yang aku pilih
untuk ku kongsikan
dengan mu...
selamat malam...:-)
Salam Faziz ar,
BalasPadampaling aku sukai - keseluruhan rangkap terakhir puisi saudara ini.
buat patungcendana.. semuga kita kan terus mengongsi puisi demi pencernaan diri dan perasaan...
BalasPadamsdr zul..terima kasih atas pernyataan yang membakar semangat untuk berpuisi... tk..semuga kita kan terus di sini berpuisi saban hari...
BalasPadamsalam balas kunjungan buat kamu sdr...
BalasPadambila tinta menari pilu...
pada bait-bait puisi terus berlagu..
mencurah segala resah dan rindu...
aku jadi tidak menentu...
yang padanya adalah diriku bersatu...
menyulam rasa di angin lalu...
bagi kamu ...yg di sini....
biasakan dirimu dengan diriku...
agar puisimu dan puisiku...
akan bergegar ..memusar di ufuk waktu...