pada langit mendung ada secalit bulan murung
rintihnya menjadi gerimis
membasah serbuk azan yang kaulaung. kudengar sedu dan tangis
pada senja yang melata
ada segerombolan gergasi dihujung mega. merah menyala
secalit bulan kian murung
rintihnya kian menjadi gerimis. kian kudengar sedu dan tangis
bila malam bertamu
bulanku termanggu lemah dan lesu
secalit cuma dilaut mega
rintihnya terus menjadi gerimis. terus kudengar sedu dan tangis
fauzirashid
25.6.09
manjung
25 Jun 2009
24 Jun 2009
Kesunyian II
kadang-kadang aku hanya
sekelungsung diri
tanpa inti
menganga dan lompong
umpama gaung
kadang-kadang aku mengalir
umpama air terlalu cair
tercari-cari
pantai dan pepasir
kalau engkau mengerti
fauzirashid
magome ryo
24.9.87
sekelungsung diri
tanpa inti
menganga dan lompong
umpama gaung
kadang-kadang aku mengalir
umpama air terlalu cair
tercari-cari
pantai dan pepasir
kalau engkau mengerti
fauzirashid
magome ryo
24.9.87
23 Jun 2009
Perubahan
jika mereka mahu berubah
tak bisa lagi kau fitnah
sekalipun kau rasuah
mereka tetapkan berhijrah
fauzirashid
22.6.09
tak bisa lagi kau fitnah
sekalipun kau rasuah
mereka tetapkan berhijrah
fauzirashid
22.6.09
22 Jun 2009
Malapetaka
malam akan membuka dendam
menjunamkan berjuta panah tajam
ke mukaku ke mukamu dan ke muka-muka
ke dadaku ke dadamu dan ke dada-dada
kita semua
kita akan ditimbus sekejap lagi
tanpa bayang-bayang sebagai teman
akan lemaslah kita di bawah bungkah-bungkah
pertanyaan
kan mengalirlah darah. bumi membasah.
malam takkan memberi pedoman
kita tetap akan dibungkus
lalu dilonggokkan ke lereng gaung
fauzirashid
puisi asal ditulis pada 25.9.87 -tokyo
dibuat sedikit ubahan pada 22.5.09 - manjung
menjunamkan berjuta panah tajam
ke mukaku ke mukamu dan ke muka-muka
ke dadaku ke dadamu dan ke dada-dada
kita semua
kita akan ditimbus sekejap lagi
tanpa bayang-bayang sebagai teman
akan lemaslah kita di bawah bungkah-bungkah
pertanyaan
kan mengalirlah darah. bumi membasah.
malam takkan memberi pedoman
kita tetap akan dibungkus
lalu dilonggokkan ke lereng gaung
fauzirashid
puisi asal ditulis pada 25.9.87 -tokyo
dibuat sedikit ubahan pada 22.5.09 - manjung
19 Jun 2009
Pelangi Kita
dibawah gurihanmu yang jingga
biar bersemi gurisanku yang biru
agar ia menjadi lingkaran pelangi
yang kita jinjing bersama ke angkasa tinggi
kan melengkunglah tujuh warna menyimbah cahaya
dari gunung ke gunung kita
biarkan kepulan awam meniti
biarkan beburung menyepi dan menyanyi
dan
di bawahnya biar anak-anak kita yang comel
berlari-larian dengan belon kecil ditangan
pada belon-belon itu
hendaknya menguntum warna pelangi kita
kan kekal selama-lamanya
fauzirashid
19.6.09
biar bersemi gurisanku yang biru
agar ia menjadi lingkaran pelangi
yang kita jinjing bersama ke angkasa tinggi
kan melengkunglah tujuh warna menyimbah cahaya
dari gunung ke gunung kita
biarkan kepulan awam meniti
biarkan beburung menyepi dan menyanyi
dan
di bawahnya biar anak-anak kita yang comel
berlari-larian dengan belon kecil ditangan
pada belon-belon itu
hendaknya menguntum warna pelangi kita
kan kekal selama-lamanya
fauzirashid
19.6.09
17 Jun 2009
Merah Senja. Tak Siapa Peduli
alangkah ngerinya menatap merah senja
dengan syaitan-syaitan menjadi pelakon di langit
menuding kuku tajam ke segenap penjuru alam
menjaja waktu dengan fitnah dan palsu
gemunungku adalah
raksaksa yang bertapa
mengeram butiran dendam ke malam
tak siapa peduli
serbuk azan menjadi debu hitam
bertaburan di jalanan tak siapa kasihan
lautku mengalir darah
menghempas senja merah
ke batu basah
tak siapa peduli
senja menikam beburung kebebasan
meninggalkan anak menganga di dahan
sasterawanku menumpulkan pena
mempersetankan naluri diri
memadamkan rintihan jelata
kerna anugerah
lebih mahal dari maruah
merah senja kian menghitam
kita dari kelompok manusia bacul
pun kian tergamam
fauzirashid
maghrib
kpm
21.4.2000
dengan syaitan-syaitan menjadi pelakon di langit
menuding kuku tajam ke segenap penjuru alam
menjaja waktu dengan fitnah dan palsu
gemunungku adalah
raksaksa yang bertapa
mengeram butiran dendam ke malam
tak siapa peduli
serbuk azan menjadi debu hitam
bertaburan di jalanan tak siapa kasihan
lautku mengalir darah
menghempas senja merah
ke batu basah
tak siapa peduli
senja menikam beburung kebebasan
meninggalkan anak menganga di dahan
sasterawanku menumpulkan pena
mempersetankan naluri diri
memadamkan rintihan jelata
kerna anugerah
lebih mahal dari maruah
merah senja kian menghitam
kita dari kelompok manusia bacul
pun kian tergamam
fauzirashid
maghrib
kpm
21.4.2000
13 Jun 2009
Kematian
bukan...
bukan kematian itu pengakhir jalan
tapi satu langkah setapak ke hadapan
di sana kau menanti saat nya yang pasti
fauzirashid
13.6.09
buat ibu saudaraku wan timah yang meninggal hari ini. alfatihah
bukan kematian itu pengakhir jalan
tapi satu langkah setapak ke hadapan
di sana kau menanti saat nya yang pasti
fauzirashid
13.6.09
buat ibu saudaraku wan timah yang meninggal hari ini. alfatihah
Langgan:
Catatan (Atom)
Belum bertajuk
Di sangkak tradisi Dieramnya generasi buat menyambung legasi Menetaslah wajah-wajah baru dari kehangatan kasih
-
Di sangkak tradisi Dieramnya generasi buat menyambung legasi Menetaslah wajah-wajah baru dari kehangatan kasih
-
ada yang menghirup segelas benci ada yang menghembus segumpal caci patah-patah kata bersiponggang dengan jerit pekik penggusti di tv kadang-...
-
bila malam pekat kita makin dekat makin dekat makin dekat makindekat malam semakin pekat kita semakin dekat semakin dekat semakindekat fau...