19 Mac 2015

Di Lantai Diri

di lantai ini
aku meratib namaMu
meratap rahmatMu
airmataku pun tumbuh dari kelopak
merembes dan bergenang

di ruang yang terbatas
baldu membasah di lantai
tiang-tiang diri pernah bergoncang
digegar iblis

di sini
kusemadikan ingatan
pada jiwa sepi
seorang aku

19.3.15

26 Februari 2015

Terkenang

di sudut waktu
kugantung potretmu
kusimpan dukaku ke lemari kaca
aku yang terbujur di ranjang ini
tidak kumampu melelapkan mata

aduhai kenangan...
ralitkan aku biar melena
singgah sebentar dipojok raga
ngilu sembilu menghiris jiwa

aduhai dikau...
apakah aku dah langsung tiada
walau sebentar di muara rasa

26.2.15


Bunga Plastik

i.
di atas meja di botol kaca
bunga plastik begitu angkuh
menjeling anggerik rimba
ii.
kupu-kupu hinggap di kelopak anggerik
menikmati madu menebarkan debunga
nyamuk tertidur di kelopak palsu
memalitkan darah beku
25.2.15

22 Februari 2015

Gurun Yang Terbakar

gurun telah membasah dik darah darah pekat yang menghanyir
bani bani tanpa Tuhan membusung dada membara diadudomba
hanya kerna kalian telah mengangkat abu jahal, abu lahab ke mahkota tertinggi
kembali mengadap al lata, al udza bersama 360 berhala yang berdiri di lantai pagan

abdullah ubaipun merenjis minyak ke pelosok tanah gurun yang garing
tanpa peduli, menyiut api lalu marak mejilat batu kejahilan kalian
hanya kerna kalian masih kekal dengan kabilah kabilah berunta di lereng perbukitan gersang
tanpa kalian membaca bahawa langit, matahari dan bulan telah menghulurkan waktu untuk terus mencari erti ketamadunan manusiawi
asal didasari Kitab dan Sunah yang di jamin Tuhan

dan mataf seharusnya lantai untuk kalian terus mengintai rumah Tuhan
dalam puisingan tanpa ada perhentiannya sesaatpun


22.2.2015

19 Januari 2015

Frustrasi...

Lantai malampun dihidupkan dengan
tarian fantasi dielus marijuana
kau hadir dipojok itu

ditemani musik bingit menyebatikan pekikan iblis
ke rongga rongga ghairah 

Ahaa...
kulihat kau mengapung
bersama belon belon yang terkinja
di kelam jingga
menagih kepul asap yang menerobos jantung
menghitamkan rongga nafas

Dan
musikpun diteruskan tanpa puisi
lagi dan lagi...
dihias dencingan gelas anggur

Apakah pekat buihnya kaufikir...
bisa menenggelamkan takdir Tuhan.

sampai bila. sampai bila
kau harus begini...

19.1.15

30 Disember 2014

INI HUDUD TUHAN. BELAJARLAH MENYANTUNI BUMI


saudaraku sekelian
telah sekian lama kita kasari
bukit dan pergunungannya

kita cemari
darat dan lautan itu

kita injak kita asak
sesuka kita!

sebenarnya
lantai ini tidak pernah membenci kita
walaupun kita injak
walaupun kita ludah
ia tetap menggalas kita
ke mana saja kita pergi

ia tetap memberi kita makan
ia tetap menghulurkan kita air
walaupun kita hentak
walaupun kita cemari najis

ironinya kita tidak pernah merasakan
bahawa kita ini makhluk rakus

dan...
ini sekedar dengusannya
sekedar menekuni hudud Penciptanya

30.12.14

14 November 2014

Bermulanya Sebuah Cinta

demi Tuhan
kesepian adam
menjelmakan hawa
di langit syurga berdua

kasihpun menguntum...


dik kepingin hawa
menjamah ranumnya khuldi
menurunkan adam bersamanya
ke lantai bumi yang asing

rindupun merimbun
 kesepian kembali meresap
di dada adam dan hawa
dipisah benua entah ke mana

oh adamku...di mana geranganmu
oh hawaku sayang...aku ingin sekali, memelukmu


dua jiwa berkasih
pun mencari cinta
meredah pelantar benua yang garing

dan di jabal rahmah yang sunyi
hawa memeluk adam
adam mendakap hawa

tidak rela dipisahkan lagi
oh...tidak...!

Robbana, Zolammna, Amfusana...
Wa iillam taghfirlana....
Watarhamna lanaku nan
naminal khosirin...

camar berlegar
ke biru langit yang terlalu dalam....

21 muharram 1436




Belum bertajuk

  Di sangkak tradisi Dieramnya generasi buat menyambung legasi Menetaslah wajah-wajah baru dari kehangatan kasih