10 Januari 2021

 Makrifat

melihat hakikat
bermaqam saat dan tempat
terikat limpah rahmat...
kudrat satu Zat
16.11.19
renyai hujan
malam yang diam

 Tubuh dan Roh

seumpama lilin yang menyala
dari lilin nyalanya membakar...
dari nyalanya lilin terbakar...
21.11.19
menelaah falsafah hidup karya Buya Hamka

 Kembara diri

dihujung diksi diri
wajah soal melengkong
di relung-relung tanya
di malam yang diam
bilah seru yang tajam
menikam
hujung jantung
menetaslah cinta
dari cengkerang waktu
menciap-ciap menuju zatMu
25.11.19
12.30 am
pantai dalam
kl

 siapa mampu mendamaikan ombak yang menghempas resah ke pantai fitrah

siapa mampu menahan amarah api yang mercik meretak di rekahan lelangit merah
sedarlah semua
kita ciptaan kerdil dengan kudrat nihil
dengan waktu yang terbatas memohon belas
perlu pasrah pada setiap langkah
27.11.19

 Pemergian

i
kita tak bisa mendahuluinya
mahupun melengahkannya
walau sesaatpun
kerna ketentuan
telah ditentukan..
ii
bukan...
bukan kematian itu satu perhentian
cuma selangkah ke hadapan
menemui Tuhan
iii
hanya seberkas doa
setulus ingatan
kususulkan buatmu
wahai sahabat...
30.11.19
puisi khas buat ingatan
sahabatku En.Zaid (Perpaduan manjung)
yang kembali kerahmatullah pada hari ini jam 4 petang di rumah allahyarham... semuga rohnya ditempatkan bersama orang-orang yang mendapat rahmatNya..

 Pemergian itu penantian

sahabatkupun berangkat
menuju destinasi abadi
dan tak bisa lagi kembali bersama kami
ke sini untuk
bersama berdiri di saf
seperti sebelum ini
doa kerabat dalam kesayuan yang mendalam
mengalir bersama air mata perpisahan
sukar melepaskan
tapi... itulah suratan
yang tak bisa dimungkiri
sebenarnya dia telah mendepani
melangkah ke aspal yang terbentang lurus
kita yang tertinggal...
masih dijuzuk ini
sementara dia
menunggu diperbaringan
saat perhitungan
kita harus terus
mendoakan...
bersemadilah duhai sahabat
bersama orang yang diselimuti berkat
1.12.19
kuabadikan ini
saat selepas solat jenazah sahabat
11.30am

 Pintu

saban waktu
kutunggu kepulanganmu
bila kau sapaku dengan kekunci
kubuka dedaun hati
melangkahlah sayang
memasuki diriku
biar kau terlena di kamar mimpi
aku tetap berdiri mengawasi
melindung petir dan hujan
jembalang dan syaitan
dan..
bila kau melangkah pergi
kau sarungkan kekunci hatimu
aku akan terus setia
menunggu kepulanganmu di senja
26.12.19
seri manjung

Belum bertajuk

  Di sangkak tradisi Dieramnya generasi buat menyambung legasi Menetaslah wajah-wajah baru dari kehangatan kasih