31 Januari 2013

Duhai Laut - Kuhayatimu

kudengari desahmu
kurasai kepedihanmu
menggarap lendir-lendir dosa dari kuala manusia

kau kendong gelombang dari pelabuhan rindu
perpisahan dua kekasih
entah bila ditemukan kembali

duhai laut
kiranya itu suratan
cintamu meranum jua
di dada pantai yang terlalu setia




27 Januari 2013

Umang-Umang

i
tidak pernah dia menghitung dosa
mengheret cengkerang palsu
saban waktu

ii
diapun merangkak dalam cengkerang dusta
mengunyah pepasir senja
senja yang tidak lagi berpelangi

bila ombak membawa desah angin
diapun terus menghilang
menyusup lubang-lubang

faziz ar

27.1.13
(cantuman puisi 2011}
23.10.11

26 Januari 2013

Buat Melani Meliana (Jakarta Barat Sekitar 1976)

kukenali jiwamu
tapi tidak pernah kukenali dirimu

kusentuh perasaanmu
tapi tidak pernah kusentuh pipimu

(kenangan buat seorang rakan pena yang agak sudah akrab. mungkin kerna hanya jarak yang memisahkan. dan waktu itu tidak seperti hari ini...kita bisa saja berbisa selangsungnya)

25 Januari 2013

Duhai Kalian

kulihat kehidupan kalian dihutani dengan segala rencam
hidup dalam debu malam yang menghitamkan muka-muka kalian
dan perutusan tuhan tidak lagi kalian kenali;
apakah ianya sebagai perutusan untuk mengitari hidup
atau kalian menggilai semangat tanpa roh ditunggangi nafsu serakah
lantas kalian telah tersesat jauh dalam belantara kehidupan
sebuah kehidupan yang benar-benar palsu
tanpa matahari
tanpa bulan
tanpa denai ke mana-mana

tiada tirai lagi antara kalian dengan iblis laknatullah
tiada malaikat yang sudi menjengah kalian
tiada lagi sempadan
kalian berbondong-bondong ke nar
yang merangupkan tulang sulbi
dengan bidasan cemeti azab yang azali

tuhan memerhatikan setiap langkah kalian
bila tiba perutusan berdarah dariNya
tiada akhirnya lagi
kesensaraan itu



23 Januari 2013

Kota & Dosa

neon mercik suram pada lantai malam
bilah gerimis menikam dari langit
kota ini asyik mencetak dosa
dari derap langkah nafsu yang
dipacu iblis

di sini tuhan telah dilupakan
buih-buih syaitan menggauli tengik marijuana
lorong kelam dihuni gelandangan berkurap
dan di longkang,
lendir mengalir lesu

sebenarnya kota ini menangis
kudengar esakkannya
kudengar rintihnya kepada tuhan
kudengar ratapnya kepada kalian

17 Januari 2013

Anakku dan Gelang Getah

(anakku dan rakan-rakan bermain gelang getah)

merekapun melontar gelang getah melepasi garisan
gelang getah dilontar mengikut giliran
biru, merah, hijau dan aneka warna ikut pilihan
bila gelang getah bertindan dia akan mengaut semua gelang getah di halaman rumah

dan permainan dimulai semula
biru, merah, hijau dan aneka warna dilontar lagi
ikut pilihan. ikut giliran
bila lontaran gelang bertindan di atas garis halaman
pemenang mengaut semua
gelang getah adalah miliknya

yang menang pulang dengan sebabun getah
yang kalah. pasrah...

besok mereka berjanji untuk
bermain lagi.

Batu Nisan

di sini aku berdiri menulikan setiap pertanyaan
di sana aku berdiri menjadi saksi-saksi kalian

16 Januari 2013

Berita Jam 8

diketuknya batu-batu benci
saban malam

batu-batu benci mercikkan api
api menyala di kamar kami
api membakar jendela kami

kamar ini menjadi bara
bara menyala menjadi api
api menyala di mana-mana

hati kami nyalaan api
langkah kami langkah berapi
api membakar di mana-mana

08 Januari 2013

Senja Klise

senja sering terbicara dalam puisi kita
senja dilukiskan dengan warna jingga
senja dan laut, senja dan pantai, debur ombak dan senja

beburung terbang ke sarang senja
senja yang gerimis
senja dan ufuk yang sayup
senja dan garis gunung
dan pelangi itu melengkung senja


padaku senja adalah usia
malam itu kematian
di senja ini kita harus berdiri di saf yang panjang
merebah dahi pada bumi
sekhusuk-khusuknya
khusuk pada Pencipta
khusuk pada Al Khaliq
sebelum kita ditolak senja ke jurang yang dalam

01 Januari 2013

Aku Dan Langit

bawakan kepadaku kejoramu
agar dapat kupeluk ia dengan rinduku yang terlalu

sinari daku dengan purnamamu
biar punggukku yang merindu berlagu sendu
memangil-manggilnya dari pohonan malam

biarkan mozek-mozek bergantungan di dadamu
agar melindungiku dari pinar mentari