21 Januari 2010

Akhirnya

di lantai kakilima kehidupannya yang hanyir
diletaknya semangkuk harap
nasibnya yang kemek
menadah simpati
pada kaki-kaki yang lewat
kota yang sarat

perempuan itu terus menyeret hidup
dengan mangkuknya yang retak seribu
mengharung takdir pada bibir
kehidupannya yang bernanah
sepi dan
tiada yang peduli

fauzirashid
(kenangan ketika menelusuri malam di Lorong Hj Taib, KL)
21.1.10

2 ulasan:

  1. 'aku simpati kepada yang ingin menyucikan diri tapi tidak bisa lepas dari belenggu ini,
    aku benci kepada yang merasa itulah takdir diri dan hanya menyerah pada situasi'

    BalasPadam
  2. salam fauzi,

    Saya pernah ke lorong Hj. Taib atau sebelahnya,
    diajak oleh kawan yang mahu mengusik
    beramah mesra dengan manusia yang
    berpakaian perempuan.

    Satu pengalaman yang sangat
    berharga!

    BalasPadam